28 June 2017

Wednesday, June 28, 2017

* Mengulas ulang Motor Jantan di Eranya *

Suzuki A100 atau yang biasa dikenal dengan nama Suzuki A cepek adalah motor sport komuter 2 tak pertama Suzuki Indonesia dibawah bendera PT.Indohero steel & engineering. Motor ini diperkenalkan tahun 1973 bersamaan dengan motor bebek Suzuki FR70. Selain menjadi motor pertamanya, motor ini juga menjadi motor Suzuki yang paling lama masa edarnya di Indonesia. Di Jepang sendiri, motor ini sudah ada sejak 1966 atau 7 tahun sebelum masuk secara resmi ke Indonesia.

Suzuki A100 ini Memakai mesin berkapasitas 98cc 2 tak yang menghasilkan tenaga maksimum 9,3hp pada 7500 rpm. Kecil? ingat motor ini hanya memiliki berat sebesar 83 kg dan diproduksi tahun 1970an. Yang spesial dari mesin motor ini adalah adanya rotary valve dengan sistem pompa oli otomatis yang disebut dengan Suzuki CCI. Sistem rotary valve sendiri adalah sistem dimana buka tutup saluran gas baru yang diatur oleh sebuah rotary valve atau katup berputar. Katup rotary digerakkan oleh poros engkol. Pembukaan dan penutupannya sesuai dengan proses yang berlangsung dalam silinder. Jika piston bergerak dari TMB ke TMA katup rotary membuka saluran pemasukan gas baru sehingga gas baru masuk ke ruang engkol. Gas tersebut akan dialirkan ke ruang bakar pada saat piston bergerak dari TMA ke TMB. Sepeda motor dengan sistem ini memiliki karburator yang berada di dalam bak engkol sehingga tidak kelihatan dari luar.

Tiap beberapa tahun sekali, Suzuki melakukan update kepada motor entry level ini. Tiap updatenya akan diberi tambahan angka dibelakang namanya untuk menunjukkan update ke berapa. Pertama masuk ke Indonesia pada tahun 1973, motor ini memiliki bentuk khas era 70an dengan tangki membulat, lampu utama dan sein bulat, lampu belakang kotak oval dengan aksen bulat dibagian tengah atasnya. Fiturnya tergolong sangat minim karena masih mengandalkan rem teromol dan tidak adanya tachometer. Sekitar tahun 1983, Suzuki A100 berubah menjadi serba kotak. Tangki bensinnya menyudut menjadikannya terlihat mengotak. Speedometer yang kini bersebelahan dengan tachometer bentuknya sudah kotak begitu juga dengan lampu utama dan lampu sein. Memasuki tahun 1990, Suzuki melakukan ubahan terhadap A100 dengan desain body yang lebih modern. Bentuk tangki dan bodi samping kini dibuat seakan menyatu karena desainnya yang mengalir. Jok belakangnya juga dibuat lebih memanjang yang membuat tampilan belakangnya berubah. Model generasi ke sepuluh ini dikenal juga dengan nama Suzuki A100 Econos.

Sepeda motor ini diproduksi oleh Suzuki Motor Co. Ltd di Hamamatsu Jepang dan di impor oleh  PT.Indohero steel & engineering Co. Selain di produksi di Jepang, motor ini juga diproduksi di India dengan nama yang sama (A100) dan di Tiongkok dengan beragam nama. Sebenarnya motor ini sudah terlebih dahulu dipasarkan di Jepang pada tahun 1966 namun baru masuk ke pasar Indonesia tahun 1974. Tercatat motor ini dihentikan penjualannya pada tahun 1999 dengan harga 8.260.000 rupiah dan dengan nama Suzuki A100 Econos XT.

Harga pasaran sepeda motor yang pernah menjadi kendaraan operasional Pos Indonesia dan beberapa instansi pemerintahan ini beragam dan tergantung kondisi. Dalam kondisi standar harganya rata rata terpantau kurang lebih 4 juta rupiah. Namun karena memang sudah jarang yang suka dengan mesin 2 tak, kadang harganya bisa jauh lebih turun lagi. Dijalanan umum, sudah mulai jarang ditemukan Suzuki A100 ini. Banyak unit Suzuki A100 ini yang hanya teronggok di pojokan kantor instansi pemerintahan karena sulitnya lelang ke masyarakat akibat birokrasi yang rumit.

Spesifikasi Suzuki A100 ini adalah sebagai berikut:

Tipe A100
Mesin 2 tak 98cc silinder tunggal
Bore X Stroke 50 X 50 mm
Sistem Bahan Bakar Karburator
Transmisi Manual 4 Speed
Wheelbase 1.160 mm
Panjang 1.820 mm
Lebar 680 mm
Tinggi 960 mm

Foto Terlampir
Suzuki A3 1971 Biru ( Kediri )
Suzuki Econos Pos Indonesia ( Jateng )

sayang ga dapat foto A100 Ex Tentara 😇

Semoga Bermanfaat
Re-post dari https://www.facebook.com/Anti.emooooo

Mengulas ulang Motor Jantan di Eranya (by Marco Prasetyo)



0 komentar:

Post a Comment