05 February 2018

Monday, February 05, 2018

Sumber https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10212905353801128&id=1008681075

Saya mau sedikit bercerita tentang transportasi ke Asmat. Ini perjalanan dari Timika. Tempo hari saya menumpang pesawat Airfast yang memang tdk ada jadwal reguler ke bandara Ewer, Asmat. Harga tiket lumayan mahal, 2 jt perorang tanpa bagasi.  Untuk penerbangan reguler seminggu tiga kali harga tiket berkisar 1,4-1,5 jt. Jadi kita harus ditimbang dengan tentengan di kabin. Selebihnya untuk bagasi harus membayar tersendiri. Saya membawa satu tas seberat 15 kg harus membayar sekitar 750 rb, beruntung karena termasuk rombongan tim kemenkes saya tdk jadi dikenakan biaya untuk bagasi. 

Penerbangan ditempuh selama kurang lebih 50 menit-1 jam melewati hutan2 lebat dan sungai2 berliku bagaikan ular2 raksasa diantara pepohonan. Bandara Ewer masih dalam pengerjaan. Beberapa alat berat sedang beraktifitas. Kampung Ewer ini merupakan salah satu kampung dimana ada tanah keras  yg bisa dipakai untuk landasan. Sementara ditempat lain merupakan lahan manggrove termasuk ibukota kabupaten Asmat yaitu kota Agats.
Setiba di bandara Ewer saya langsung menuju pangkalan speedboat dan membayar 100 rb untuk bisa mencapai Agats. Speedboat disini ukurannya kecil2, muat 4 orang tanpa atap, tanpa life jacket dan selanjutnya menyusuri sungai yg berwarna coklat dengan banyak buaya hingga mencapai muara untuk selanjutnya menuju pelabuhan Agats. Perjalanan dengan speedboat ditempuh 20 menit diantara ombak dan doa-doa yang tak terdengar 😀😀😀. Ini baru di ibukota kabupaten. Belum bila harus ke kecamatan2 dan kampung2. Tolong dibayangkan sendiri.

Itu saja yang ingin saya ceritakan, menyikapi banyak komentar miring terhadap profesi kami yg katanya hanya berpikir materi. Sekali-kali mungkin tangan yang  lincah menulis dan mulutnya nyinyir mencoba mengambil sedikit bagian dengan berjalan2 kepelosok2 negeri ini. Mengabdi padamu negeri bukan hanya beban yang harus ditimpakan dipundak profesi ini, saya rasa semua orang memiliki kewajiban yang sama berbakti pada bangsa dan negara.

So kalau memang belum bisa melakukan sesuatu buat bangsa ini alangkah bijaknya tidak sesuka hati mencap dan membully orang lain. Mungkin yang perlu dibully adalah para pengambil kebijakan yang seharusnya berdiri bersama warganya, dan bukan sehari-hari berkantor di ibukota, menghabiskan dana-dana otsus tanpa kejelasan. Warga Papua tidak miskin karena dana yg ada begitu menakjubkan meskipun baru sekedar terdengar saja. Jangan selalu hanya pandai menunjuk orang lain sementara diri sendiri tidak pernah melakukan apa-apa.

Saya pribadi biar ditawari gaji besar  masih berpikir seratus kali untuk menukar kenyamanan, keamanan dan kemudahan yg saya jalani selama ini, maka sangat tinggi penghargaan dari saya apabila ada teman sejawat yang mau bertugas disana. Salam hormat buat orang-orang hebat yang bekerja dalam senyap. Kami para dokter tak butuh panggung untuk pencitraan, karena kami profesional yg punya kompetensi.

#sodorin cermin buat yang suka membully #tong kosong memang selalu nyaring bunyinya #sepenggal kisah dari Asmat#













0 komentar:

Post a Comment